Distribusi FMCG (1)

Tantangan Distribusi FMCG: Transportasi Khusus, Multi-Channel, dan Minimum Order Quantity

Tantangan FMCG: Transportasi Khusus, Multi-Channel, dan Minimum Order Quantity

Distribusi FMCG bisa terlihat rapi dari luar. Barang ada di toko. Pesanan online berjalan. Namun di balik layar, ada tiga tantangan yang sering membuat operasional cepat melelahkan: transportasi yang harus khusus, penjualan di banyak channel, dan aturan minimum order quantity.

Baca juga distribusi FMCG lainnya

Distribusi Langsung : Direct Channel dan D2C: Cara Supplier Menjual Langsung ke Customer (Plus dan Minusnya)

Peta Jalur Distribusi FMCG dari Supplier sampai Direct-to-Consumer

Sejak 2016, RBiz berjalan sebagai perusahaan Ecommerce Enabler yang fokus pada market expansion in Indonesia. Kami bekerja di e-commerce business dan offline channel distributions. Di lapangan, kami terbiasa melihat satu produk harus bergerak ke banyak tujuan, dengan tuntutan pengiriman yang berbeda-beda. Karena itu kami menjalankan Supply Chain Management Service, warehouse and logistics, dan Customer Service untuk menjaga alur kerja tetap stabil. Kami juga mengelola E-Commerce Platform sebagai Official Store, serta Distribution Network Management untuk Offline Channel agar produk bisa bergerak di beberapa jalur sekaligus.

Artikel ini memetakan tantangan tersebut dengan bahasa sederhana. Anda akan melihat contoh di kategori food, memahami kenapa outsourcing tidak selalu mudah, serta mengerti bagaimana MOQ memengaruhi inbound dan outbound.

Memahami tiga istilah utama

Sebelum masuk ke contoh, ada tiga istilah yang perlu didefinisikan:

Dedicated transportation modes

Ini adalah moda transportasi yang memang disiapkan untuk kebutuhan tertentu. Bukan sekadar truk biasa. Biasanya ada aturan suhu, kebersihan, atau pemisahan jenis barang.

Multi-channel sales

Artinya penjualan terjadi di banyak channel. Contohnya toko milik sendiri, traditional store, modern retail chains, wholesaler, dan channel online.

Minimum order quantity atau MOQ

MOQ adalah batas minimum order. Ada MOQ saat membeli raw materials. Ada juga MOQ saat mengirim produk ke channel atau customer tertentu.

Tiga hal ini sering saling mempengaruhi. Ketika transportasi harus khusus, biaya dan jadwal berubah. Saat channel makin banyak, variasi kebutuhan makin besar. Lalu MOQ menambah batas yang membuat keputusan distribusi tidak bisa sesuka hati.

Transportasi khusus: tantangan paling terasa di kategori food

Di FMCG, transportasi khusus sering muncul kuat di kategori makanan. Ada produk yang tidak boleh tercampur. Ada yang harus menjaga kondisi tertentu selama perjalanan. Ada juga yang perlu penanganan berbeda dari gudang sampai penerima.

Contoh yang mudah dipahami: produsen ayam

Salah satu contoh yang sering dipakai adalah produsen ayam yang membutuhkan special trucks. Bukan satu jenis saja, tetapi berbeda untuk small chickens, eggs, frozen goods, dan finished products.

Perbedaan ini membuat perencanaan pengiriman menjadi lebih rumit. Anda bukan hanya mengatur rute. Anda juga harus mengatur kendaraan, jadwal, dan kesiapan barang sesuai jenisnya.

Kenapa transportasi khusus sering sulit di-outsource

Untuk kategori tertentu, kebutuhan transportasinya sangat spesifik. Dalam kondisi seperti ini, outsourcing kadang tidak mudah. Beberapa perusahaan akhirnya harus run it on your own karena merasa lebih aman mengendalikan prosesnya.

Di Indonesia, tantangannya bisa bertambah karena kondisi jalan dan jarak. Ada rute yang mudah. Ada rute yang padat. Ada rute yang panjang. Saat transportasi butuh perlakuan khusus, margin toleransinya mengecil. Sedikit terlambat bisa berarti kualitas turun.

Multi-channel sales membuat distribusi semakin kompleks

Penjualan FMCG jarang berada di satu tempat. Produsen bisa punya toko sendiri. Produk juga bisa masuk traditional store, modern retail chains, dan wholesaler. Di saat yang sama, channel online berjalan.

Channel punya “aturan main” berbeda

Retail chain sering punya standar dan proses yang tertib. Wholesaler biasanya fokus pada pembelian bulk dan penyebaran ke banyak titik kecil. Traditional store punya pola belanja yang bisa berubah cepat. Channel online punya ritme promosi dan lonjakan pesanan yang khas.

Karena perbedaan ini, distribusi bukan hanya soal kirim barang. Distribusi adalah mengelola banyak kebiasaan. Dan kebiasaan itu tidak selalu sejalan.

Di Indonesia, multi-channel sering berjalan bersamaan

Banyak brand ingin hadir di modern trade dan general trade. Sekaligus ingin kuat di online marketplace. Ini membuat tim supply chain harus memikirkan alokasi stok antar channel.

Agar Anda punya gambaran jalur yang biasa ditemui, distribusi bisa menyentuh modern retail, general trade, dan juga jalur lain seperti HORECA. Ketika satu channel sedang ramai, channel lain tetap perlu dijaga agar tidak kosong.

Di tengah kondisi ini, kami di RBiz terbiasa mengelola channel yang beragam. Dalam ekosistem kami ada E-COMMERCE PLATFORM, RETAIL dengan MODERN dan GENERAL TRADE, serta HORECA. Kami juga mengelola Online B2B Channels dan Offline B2B Channels. Di sisi layanan, kami menyediakan Integration Omni-Channel, sales operation, dan support marketing, integration and service. Ini membantu brand menjaga ritme kerja yang sama walau channel-nya berbeda.

MOQ: batas minimum yang mempengaruhi inbound dan outbound

MOQ sering terasa sebagai aturan yang “mengikat tangan”. Namun tujuan MOQ biasanya sederhana, membuat proses tetap efisien. Masalahnya, saat MOQ bertemu multi-channel dan transportasi khusus, pengaruhnya bisa menjadi besar.

MOQ di inbound: pembelian raw materials

Di sisi inbound, produsen bisa menghadapi MOQ saat membeli raw materials. Artinya, meski kebutuhan Anda sedikit, supplier mungkin meminta pembelian minimal. Ini bisa menimbulkan stok bahan yang besar, atau membuat cash flow lebih berat.

MOQ di outbound: pengiriman produk

Di sisi outbound, MOQ bisa muncul sebagai minimal pengiriman per channel atau per customer. Produsen perlu mendefinisikan minimum order quantity agar bisa menangani distribusi pada proper level of service.

Di lapangan, situasinya sering seperti ini:

  • Channel A ingin kirim sering, tetapi kecil-kecil.
  • Channel B bisa kirim besar, tetapi jarang.
  • Channel C butuh cepat karena mengikuti program tertentu.

MOQ memaksa perusahaan membuat aturan. Tanpa aturan, biaya pengiriman bisa meledak. Namun kalau aturan terlalu kaku, barang bisa tidak tersedia saat dibutuhkan.

Service level menjadi penyeimbang

Service level adalah target layanan, terutama soal ketersediaan dan kemampuan memenuhi permintaan. Saat MOQ tinggi, Anda perlu memastikan service level tidak jatuh karena menunggu order terkumpul. Saat channel banyak, service level perlu dibedakan sesuai prioritas.

Langkah sederhana yang sering membantu:

  • Tentukan produk mana yang paling penting untuk dijaga.
  • Tentukan channel mana yang paling sensitif terhadap kekosongan.
  • Sepakati aturan MOQ yang realistis, lalu jalankan konsisten.

Bagaimana menyatukan tiga tantangan ini dalam praktik

Ketiga tantangan ini tidak bisa diselesaikan dengan satu trik. Namun Anda bisa membuatnya lebih terkelola dengan pendekatan yang rapi.

Mulai dari peta jalur dan kebutuhan per channel

Anda perlu tahu channel mana yang membutuhkan transportasi khusus, channel mana yang fleksibel, dan channel mana yang punya kebutuhan rutin. Ini membantu menyusun jadwal, alokasi stok, dan aturan MOQ.

Pastikan alur kerja jelas dari order sampai pengiriman

Ketika multi-channel berjalan, proses harus jelas. Mulai dari penerimaan order, persiapan barang, pengemasan, hingga pengiriman. Jika proses tidak jelas, tim akan cepat kewalahan, terutama saat peak.

Di RBiz, kami menjaga alur kerja melalui workflow yang berurutan. Ada tahap principal delivering goods to Rbiz warehouse, pengaturan SKU ke system, lalu saat customer order product, order diterima oleh customer service, diproses di warehouse, lalu courier take delivering goods to customers, dan diteruskan dengan after sales service. Dalam layanan, kami juga mencantumkan Last Mile Delivery Service, Supply Chain Management Service, serta warehouse and logistics sebagai bagian dari kerja harian untuk menjaga pengiriman tetap bergerak.

Penutup

Transportasi khusus, multi-channel sales, dan MOQ adalah kombinasi yang sering membuat distribusi FMCG terasa rumit. Di kategori food, dedicated transportation modes bisa menjadi kewajiban, dan sering sulit di-outsource karena kebutuhan yang spesifik. Di sisi lain, multi-channel membuat distribusi harus melayani banyak kebiasaan. Lalu MOQ menambah batas minimum yang mempengaruhi keputusan inbound dan outbound.

Di RBiz, kami memulai sejak 2016 sebagai Enabler Company yang fokus pada market expansion in Indonesia. Kami bekerja di e-commerce business dan offline channel distributions, lalu mengelola alur kerja yang menyambungkan E-Commerce Platform Official Store dengan Distribution Network Management pada Offline Channel. Dalam operasional, kami menjalankan Integration Omni-Channel, Customer Service, warehouse and logistics, Supply Chain Management Service, dan Last Mile Delivery Service. Saat tantangan datang bersamaan, pendekatan ini membantu distribusi tetap bergerak, sambil menjaga service level dan kebutuhan tiap channel tetap diperhatikan.

Comment (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *