distribusi

Peta Jalur Distribusi FMCG dari Supplier sampai Direct-to-Consumer

Peta Jalur Distribusi FMCG dari Supplier sampai Direct-to-Consumer

Distribusi FMCG sering terlihat seperti satu jalan lurus: barang dibuat, lalu dikirim, lalu dijual. Kenyataannya, jalur FMCG lebih mirip peta jalan bercabang. Ada banyak rute untuk produk yang sama.

Sejak 2016, RBiz berjalan sebagai Enabler Company yang fokus pada market expansion in Indonesia. Kami bertemu banyak bentuk jalur distribusi, dari offline channel distributions sampai e-commerce business. Dalam praktiknya, kami mengelola E-Commerce Platform sebagai Official Store, menjalankan Distribution Network Management untuk Offline Channel, dan menjaga operasional lewat Supply Chain Management Service, warehouse and logistics, serta Customer Service. Kami juga bekerja dengan ekosistem yang luas, melibatkan Fulfillment Center, Partners, Cities, dan Brands. Pengalaman ini membuat kami terbiasa melihat satu produk bisa punya banyak “jalur keluar” yang sama-sama penting.

Baca Juga

7 Alasan Penting Mengapa Pabrik atau Produsen Perlu Distributor

Select 7 Alasan Mengapa Distributor Perlu Sub Distributor

Di artikel ini, Anda akan mendapat peta sederhana tentang alur distribusi FMCG. Mulai dari sumber pasokan, sampai jalur outbound klasik, peran wholesaler, tren direct-to-consumer, dan apa dampaknya bagi kerja sama dengan banyak partner.

Mulai dari sumber pasokan: supplier, pabrik, dan farm

Dalam FMCG, produsen biasanya membeli banyak bahan dari supplier. Supplier ini bisa berupa pabrik yang memasok bahan kemasan, bahan kimia, atau komponen lain. Bisa juga farm yang memasok bahan pangan.

Kenapa rantai pasokan sering panjang

Produk FMCG terlihat sederhana saat sudah jadi. Tetapi sebelum jadi, ada banyak langkah di belakangnya. Bahan datang dari beberapa tempat. Jadwalnya berbeda-beda. Kualitasnya perlu dijaga.

Di Indonesia, jarak antarpulau, kepadatan kota besar, dan perbedaan akses logistik membuat pengaturan pasokan terasa lebih menantang. Produsen perlu memastikan bahan datang tepat waktu, supaya produksi tidak berhenti.

Kapan wholesaler muncul di sisi pasokan

Wholesaler tidak selalu berada di sisi penjualan saja. Dalam kondisi tertentu, produsen juga bisa menggunakan wholesaler untuk mendapatkan produk atau material yang bukan “pembelian besar” bagi mereka. Ini bisa terjadi ketika sebuah item dibutuhkan, tetapi volumenya tidak cukup besar untuk membeli langsung dari sumber utama.

Outbound klasik: jalur toko fisik dan retail chain

Outbound logistics adalah proses mengirim produk jadi ke titik penjualan atau ke pelanggan. Jalur klasik FMCG biasanya melewati toko fisik. Ada produsen yang punya toko sendiri untuk kategori tertentu. Namun yang paling umum adalah masuk ke retail chain besar.

Retail chain besar: volume tinggi, aturan ketat

Retail chain besar membantu produk cepat menyebar. Anda bisa menjangkau banyak lokasi dengan satu kerja sama. Tetapi biasanya ada persyaratan yang lebih detail, misalnya jadwal pengiriman, format dokumen, dan standar layanan di gudang.

Dalam konteks Indonesia, retail chain juga sering punya ritme promosi. Ada periode tertentu yang membuat permintaan melonjak. Ini membuat distribusi tidak bisa berjalan “rata” setiap minggu.

Kenapa produsen tetap butuh jalur lain

Masuk retail chain bukan berarti jalur lain ditutup. Banyak produk juga butuh hadir di toko kecil, pasar lokal, atau kanal lain yang lebih spesifik. Karena itu, peta distribusi FMCG jarang berhenti di satu jalur.

Peran wholesaler: penghubung ke toko kecil

Untuk menjangkau toko kecil, produsen sering melewati intermediary. Yang paling umum adalah wholesaler. Wholesaler membeli dalam jumlah besar, lalu mengirimkan ke banyak toko kecil.

Kenapa wholesaler masih relevan

Wholesaler membantu distribusi “mengecil” dari skala besar ke skala ritel kecil. Produsen tidak perlu mengirim sedikit-sedikit ke ribuan titik. Wholesaler yang mengatur penyebarannya.

Di Indonesia, pola belanja toko kecil sering berbeda dengan retail besar. Banyak yang butuh pasokan lebih sering dengan kuantitas lebih kecil. Di sini peran wholesaler bisa sangat terasa.

Hal yang perlu dipahami saat bekerja dengan wholesaler

Karena wholesaler adalah perantara, ada dua lapis kebutuhan yang harus dipenuhi. Produsen punya target distribusi dan ketersediaan barang. Wholesaler punya target perputaran stok dan margin. Jika tidak selaras, produk bisa tersendat di gudang, atau sebaliknya, stok cepat habis di lapangan.

Tren baru: direct-to-consumer melalui website dan marketplace

Beberapa tahun terakhir, muncul tren direct shipping ke pelanggan. Produsen membangun situs sendiri untuk menjual produk langsung. Tujuannya, mereka tidak selalu harus melewati retail chain yang mengambil bagian besar dari profit.

Selain situs sendiri, produsen juga memakai marketplace. Di sini, marketplace bukan sekadar tempat pajang produk. Marketplace bisa memengaruhi cara distribusi berjalan, karena pola order, kecepatan pemenuhan, dan tuntutan layanan bisa berbeda dari toko fisik.

Direct-to-consumer bukan sekadar buka toko online

D2C berarti produsen berhadapan langsung dengan pembeli. Artinya, ada konsekuensi operasional:

  • Order bisa datang kapan saja
  • Pertanyaan dan komplain datang langsung ke brand
  • Pengemasan harus rapi karena diterima per rumah
  • Pengiriman harus diatur sampai last mile

Untuk gambaran konsep D2C dari sudut pandang consumer packaged goods, Anda dapat membaca pembahasan McKinsey tentang strategi produsen yang go direct to consumer dan bagaimana hal itu perlu terintegrasi dengan channel lain. strategi D2C bagi produsen CPG.

Marketplace membuat jalur distribusi makin bercabang

Marketplace memberi akses ke trafik dan permintaan yang besar. Tetapi ia juga menambah satu jalur lagi di peta distribusi. Sering kali, ritme promo di marketplace memicu lonjakan order yang perlu dijawab dengan kesiapan stok dan proses cepat.

Dalam pekerjaan kami, pendekatan integration omni-channel membantu menjaga ritme ini. RBiz menawarkan Omni-channelled, End-to-end B2C digital commerce solutions yang mencakup online marketplace, 24/7 Customer Service, updated inventory management system, serta dukungan warehouse and logistics. Kami juga menjalankan E-Commerce Ads Management dan Campaign Strategy Marketing Service untuk kanal digital, sambil tetap menjaga Offline Channel lewat Distribution Network Management. Ketika satu brand harus berjalan di beberapa jalur, susunan layanan seperti ini membantu operasional tidak pecah sendiri-sendiri.

Implikasi utama: net distribusi yang rumit butuh fleksibilitas

Dalam FMCG, outbound logistics membentuk sebuah net distribusi yang rumit. Ini wajar, karena produk yang sama bisa punya banyak tempat tujuan. Satu minggu produk perlu masuk retail chain. Di waktu lain, produk juga harus ada di wholesaler. Pada saat yang sama, marketplace dan penjualan langsung juga jalan.

Fleksibilitas per partner itu nyata, bukan teori

Setiap partner punya cara kerja. Retail chain punya SOP. Wholesaler punya pola pemesanan sendiri. Marketplace punya SLA dan kebiasaan promo. Ketika produsen bekerja dengan banyak pihak sekaligus, fleksibilitas berarti mampu menyesuaikan cara kerja, tanpa mengorbankan kontrol.

Hal yang sering perlu disepakati dalam kerja sama distribusi antara lain:

  • Jadwal pengiriman dan cut-off order
  • Format pengemasan dan pelabelan
  • Penanganan retur atau after sales service
  • Proses komunikasi ketika stok menipis

Peta jalur distribusi membantu Anda memilih prioritas

Ketika semua jalur berjalan bersamaan, prioritas menjadi penting. Peta jalur distribusi membantu Anda menjawab pertanyaan sederhana:

  • Jalur mana yang paling kritis untuk ketersediaan barang
  • Jalur mana yang paling sensitif terhadap keterlambatan
  • Jalur mana yang paling sering berubah ritmenya

Jika Anda memahami peta ini, Anda lebih mudah menilai kebutuhan gudang, proses pemenuhan, dan kesiapan layanan pelanggan.

Penutup

Jalur distribusi FMCG dimulai dari supplier, lalu masuk ke produsen, kemudian keluar lewat banyak pintu: toko fisik, retail chain, wholesaler, marketplace, sampai direct-to-consumer. Karena pintunya banyak, jaringan outbound menjadi rumit. Dan karena setiap partner punya kebiasaan sendiri, fleksibilitas menjadi kemampuan yang perlu dibangun sejak awal.

Di RBiz distributor resmi, kami membantu menyederhanakan proses ini lewat alur kerja yang jelas. Kami mengelola proses dari Principal delivering Goods to Rbiz Warehouse, pengaturan SKU ke system, lalu Rbiz create Official Store di market place dan melakukan market analysis serta promotion plan. Ketika Customer order Product, order diterima oleh Customer Service, lalu Packaging dilakukan di warehouse, kemudian Courier take delivering goods to customers, dan dilanjutkan After sales service. Di sisi layanan, kami menyediakan Distribution Network Management untuk Offline Channel, E-Commerce Platform Official Store, Integration Omni-Channel, Supply Chain Management Service, dan Last Mile Delivery Service. Dengan cara kerja ini, jalur distribusi yang bercabang bisa dijaga agar tetap rapi dan mudah dipantau, meskipun partner dan kanal yang terlibat banyak.

Comments (2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *