Single Post
Fenomena live shopping sepi meski jumlah penonton mencapai ribuan bukan lagi kasus langka di marketplace Indonesia. Banyak seller dan UMKM digital mengeluhkan situasi yang sama, yakni viewer ramai, chat aktif, tetapi transaksi hampir nol.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar, jika penonton banyak, mengapa live shopping tidak menghasilkan penjualan? Artikel ini membahas akar masalahnya secara mendalam dan memberikan sudut pandang strategis yang relevan untuk pelaku e-commerce.
5 Potensi Live Commerce Indonesia yang Terbukti Meningkatkan Konversi
Live Shopping Viewer Banyak Tapi Sepi: Fenomena yang Semakin Umum
Secara teori, jumlah penonton tinggi seharusnya meningkatkan peluang closing. Namun, realitas di lapangan menunjukkan sebaliknya.
Live shopping viewer banyak tapi sepi terjadi karena mayoritas penonton datang bukan dengan niat membeli. Mereka hadir untuk hiburan, mengisi waktu, atau sekadar scrolling pasif.
Artinya, viewer ≠ buyer.
Kesalahan Utama: Menganggap Viewer Sama dengan Calon Pembeli
Kesalahan paling mendasar dalam kasus live shopping sepi adalah menyamakan traffic dengan intent.
Banyak live shopping di marketplace:
- Fokus mengejar viewer sebanyak mungkin
- Mengandalkan algoritma dan push platform
- Mengabaikan kualitas audiens
Akibatnya, live terlihat ramai, tetapi tidak relevan dengan kebutuhan pasar.
Kenapa Live Shopping Tidak Closing Meski Ramai?
Ada beberapa penyebab utama kenapa live shopping tidak closing, meskipun jumlah penonton tinggi.
Produk Tidak Punya Urgensi
Produk yang dijual sering kali:
- Mudah ditemukan di etalase biasa
- Tidak memiliki penawaran eksklusif
- Tidak berbeda dari hari biasa
Tanpa urgensi, penonton memilih menunda pembelian.
Host Terlalu Fokus Jualan, Kurang Edukasi
Live shopping yang terlalu “jualan” justru membuat penonton pasif. Konsumen saat ini ingin:
- Penjelasan manfaat produk
- Solusi atas masalah mereka
- Demonstrasi nyata
Inilah salah satu penyebab live shopping sepi yang sering diabaikan.
Tidak Ada Alur Funnel yang Jelas
Banyak live shopping berjalan tanpa struktur:
- Tidak ada opening yang kuat
- Tidak membangun trust
- Langsung mendorong beli
Tanpa funnel, live shopping tidak menghasilkan penjualan secara konsisten.
Masalah Live Shopping di Marketplace: Bukan Sekadar Algoritma
Sering kali seller menyalahkan algoritma. Padahal, masalah live shopping di marketplace lebih kompleks.
Beberapa faktor non-teknis yang krusial:
- Kepercayaan terhadap host dan brand
- Kredibilitas produk
- Pengalaman belanja sebelumnya
Tanpa trust, diskon besar pun tidak cukup.
Live Shopping Sepi Karena Konsumen Semakin Skeptis
Perilaku konsumen digital telah berubah. Mereka lebih waspada terhadap:
- Diskon palsu
- Klaim berlebihan
- Testimoni yang tidak autentik
Akibatnya, penonton memilih mengamati daripada langsung checkout.

Kesalahan Pricing dan Penawaran di Live Shopping
Banyak UMKM mengira diskon besar adalah solusi. Padahal, konsumen kini membandingkan harga secara real time.
Jika:
- Harga live tidak jauh berbeda
- Ongkir tidak kompetitif
- Benefit tidak jelas
Maka live shopping sepi menjadi konsekuensi logis.
Strategi Live Shopping untuk UMKM Agar Tidak Sepi
Untuk menghindari live shopping tidak menghasilkan penjualan, UMKM perlu mengubah pendekatan.
Beberapa strategi yang terbukti efektif:
Bangun Live Berbasis Masalah, Bukan Produk
Mulai live dengan:
- Masalah konsumen
- Insight yang relevan
- Edukasi singkat
Baru kemudian arahkan ke solusi berupa produk.
Ciptakan Penawaran Khusus Live
Live shopping harus terasa eksklusif:
- Bundle khusus live
- Bonus terbatas
- Harga berbeda dari etalase
Ini menciptakan urgensi alami.
Gunakan Host yang Relatable, Bukan Sekadar Cantik atau Ramai
Host berperan besar dalam trust. Konsumen lebih percaya pada host yang:
- Mengerti produk
- Jujur dalam menjelaskan
- Tidak memaksa closing
Ini faktor penting dalam mengatasi live shopping sepi.
Peran Data dalam Mengatasi Live Shopping Sepi
Salah satu penyebab utama live gagal closing adalah keputusan berbasis asumsi.
Dengan bantuan enabler seperti Rbiz, UMKM dapat:
- Menganalisis jam live paling efektif
- Memahami produk yang paling konversi
- Mengukur performa live secara objektif
Live shopping yang berbasis data jauh lebih sustainable dibanding trial and error.
Live Shopping Bukan Tentang Ramai, Tapi Relevan
Marketplace saat ini penuh dengan live. Konsumen punya banyak pilihan.
Artinya:
- Live harus relevan
- Pesan harus jelas
- Nilai harus terasa
Tanpa itu, live shopping viewer banyak tapi sepi akan terus berulang.
FAQ Seputar Live Shopping Sepi
1. Apakah live shopping masih efektif untuk UMKM?
Masih efektif jika strateginya tepat dan berbasis kebutuhan konsumen.
2. Kenapa viewer banyak tapi tidak ada yang beli?
Karena mayoritas viewer tidak memiliki niat beli sejak awal.
3. Apakah diskon besar selalu efektif di live shopping?
Tidak. Trust dan relevansi jauh lebih berpengaruh.
4. Berapa durasi ideal live shopping?
30–60 menit dengan alur yang jelas dan fokus pada value.
5. Apa kesalahan terbesar UMKM saat live shopping?
Terlalu fokus jualan tanpa membangun kepercayaan.
Kesimpulan
Live shopping sepi meski viewer ribuan bukan masalah algoritma semata, melainkan strategi yang kurang tepat. Viewer banyak tidak menjamin closing jika tidak dibarengi trust, urgensi, dan relevansi.
Dengan pendekatan berbasis edukasi, funnel yang jelas, serta dukungan data dari enabler seperti Rbiz, live shopping bisa kembali menjadi kanal penjualan yang efektif bagi UMKM dan brand e-commerce.
Ingat, live shopping bukan soal siapa yang paling ramai, tapi siapa yang paling dipercaya.
