tiktok shop

Single Post

Mitos TikTok Shop: Benarkah Harus Murah dan Harus Viral?

Live shopping TikTok Shop sering dikaitkan dengan dua hal. Harga murah dan video viral. Akibatnya, banyak penjual pemula merasa harus ikut perang harga atau menunggu “meledak” dulu. Padahal, kenyataan di lapangan lebih beragam.

Alih-alih menebak-nebak, lebih aman memahami dulu cara kerjanya. Rbiz adalah penyedia jasa layanan enabler termasuk live shopping management service, e-commerce platform official store, dan customer service untuk membantu brand merapikan strategi sekaligus operasional penjualan di kanal online.

Di Indonesia, pembeli TikTok tidak hanya mencari promo. Banyak yang mencari rekomendasi, demo pemakaian, dan pembuktian. Jadi yang dibutuhkan bukan cuma murah atau viral, tetapi pesan yang jelas dan eksekusi yang konsisten.

Kenapa mitos ini muncul

TikTok dulu identik dengan “barang murah” dan “harga coret”

Di awal pertumbuhan social commerce, konten yang ramai sering menonjolkan diskon. Produk yang cepat laku juga banyak yang harganya terjangkau. Dari situ muncul kesan bahwa TikTok Shop “tempatnya barang murah”.

Kesan ini tidak sepenuhnya salah. Hanya saja tidak lengkap. TikTok berkembang. Kategori produk makin luas. Cara orang belanja juga ikut berubah.

Efek perang promo terhadap cara pikir penjual pemula

Perang promo membuat penjual fokus pada harga, bukan pada nilai produk. Akhirnya strategi jadi sempit. Semua dikejar dengan voucher, bundling, atau potongan yang terlalu dalam.

Risikonya terasa belakangan. Margin menipis. Lalu biaya untuk ads, komisi affiliate, dan fee platform terasa makin berat. Jika margin tidak disiapkan dari awal, toko bisa ramai tetapi profit tidak sehat.

Viral itu definisinya apa, dan kenapa sering disalahpahami

Viral sering dianggap berarti jutaan view. Padahal, viral yang berguna untuk bisnis adalah viral yang mendatangkan pembeli yang tepat. Bukan sekadar penonton.

Viral juga sering kebetulan. Sulit diulang persis sama. Karena itu, lebih aman membangun sistem yang bisa diulang, bukan menunggu keberuntungan.

Mitos 1: “Kalau tidak murah, tidak laku”

TikTok bukan hanya untuk low spender, ada segmen high spender juga

Di TikTok ada segmen pembeli dengan daya beli tinggi. Ada yang belanja untuk kebutuhan keluarga. Ada yang mencari produk premium. Ada juga yang memilih produk mahal jika komunikasinya meyakinkan.

Artinya, harga bukan satu-satunya penentu. Yang sering menentukan adalah: apakah produk ini terasa relevan, dan apakah orang percaya.

Produk mahal bisa laku, syaratnya komunikasi dan target market jelas

Produk mahal butuh penjelasan yang lebih rapi. Orang ingin tahu alasan di balik harga. Bahan, fungsi, kualitas, cara pakai, dan bukti hasil. Jika semua itu tidak muncul di konten, calon pembeli akan mundur.

Target market juga harus jelas. Produk untuk ibu menyusui beda bahasanya dengan produk untuk pekerja kantoran. Produk untuk kulit sensitif beda bahasanya dengan produk untuk kulit berminyak.

Cara menyesuaikan strategi: yang didorong bukan selalu produk termahal

Untuk toko dengan produk mahal, strategi sering dimulai dari produk “pengantar”. Misalnya item yang lebih mudah dicoba, lebih cepat dipahami, atau lebih mudah dijadikan demo. Setelah trust terbentuk, barulah produk utama ikut terdorong.

Ini bukan menurunkan kelas produk. Ini urusan urutan. Mulai dari yang paling mudah menang.

Mitos 2: “Harus viral dulu baru bisa jualan”

Viral vs konsisten, mana yang lebih bisa diulang

Konsisten lebih bisa diulang. Viral bisa membantu, tetapi tidak bisa dijadikan satu-satunya rencana. Konsisten berarti konten rutin, format jelas, dan pesan tidak berubah-ubah.

Kalau ada tim kecil, konsistensi juga lebih realistis. Anda bisa membuat jadwal. Anda bisa evaluasi. Anda bisa perbaiki.

Konsep “exposure multiple times”, kenapa penting untuk pembelian

Exposure multiple times berarti calon pembeli melihat produk lebih dari sekali. Bisa dari video yang berbeda. Bisa dari live. Bisa dari konten affiliate. Ini penting karena keputusan beli jarang terjadi sekali lihat.

Di tengah banyak pilihan, orang butuh pengulangan. Pengulangan yang pintar, bukan pengulangan yang membosankan.

Kombinasi yang lebih realistis: konten rapi + affiliate + live

Kombinasi ini membantu penjualan tanpa harus viral besar. Konten rapi memberi penjelasan dasar. Affiliate memperluas pembuktian. Live mengubah keraguan jadi keputusan.

  • Konten rapi: fokus pada masalah, demo, dan cara pakai.
  • Affiliate: membantu sudut pandang baru dari orang lain.
  • Live: menjawab pertanyaan yang berulang dengan cepat.

Mitos 3: “Iklan pasti menyelesaikan semua”

Ads hanya memperbesar pesan, bukan memperbaiki pesan yang lemah

Ads itu penguat. Jika pesannya sudah jelas, ads bisa mempercepat. Namun jika pesannya membingungkan, ads hanya membuat lebih banyak orang bingung.

Karena itu, iklan yang efektif biasanya datang setelah konten organik menemukan pola menang.

Risiko saat konten tidak relate, biaya naik tetapi hasil kecil

Konten yang lucu tetapi tidak nyambung ke produk sering menciptakan masalah. View mungkin naik. Tetapi klik dan checkout rendah. Ini membuat biaya terasa mahal.

Relate berarti nyambung dengan kebutuhan orang. Nyambung dengan situasi yang mereka alami. Lalu nyambung ke fungsi produk.

Kapan ads baru masuk akal: setelah organik menemukan pola menang

Tanda paling aman adalah ketika konten organik sudah menghasilkan sinyal. Misalnya komentar yang relevan, pertanyaan yang spesifik, atau penjualan kecil yang stabil. Di titik itu, ads jadi lebih masuk akal untuk memperbesar.

Jika organik belum menemukan pola, fokus dulu ke pengujian konten. Banyak penjual pemula terburu-buru karena ingin cepat, padahal fondasinya belum siap.

Mitos 4: “Cukup jualan di live saja”

Live perlu traffic, traffic datang dari konten, affiliate, atau ads

Live tidak muncul begitu saja. Live butuh orang yang datang. Traffic itu datang dari konten yang rutin, affiliate yang aktif, atau ads yang mendorong.

Jika hanya mengandalkan live, biasanya live jadi sepi. Host capek. Tim capek. Lalu konsistensi hilang.

Live yang efektif butuh host, setup, dan ritme yang konsisten

Live yang efektif terasa seperti toko yang ramah. Host menjelaskan berulang. Setup visual membantu orang paham produk. Ritme membantu penonton baru tidak ketinggalan.

Hal sederhana yang sering dilupakan adalah pengulangan. Banyak penonton masuk di tengah. Jadi poin penting perlu diulang tiap beberapa menit.

Jam ramai dan peak hours, bagaimana cara mencari jam yang tepat

Peak hours adalah jam ketika audiens paling aktif. Cara paling sederhana adalah uji beberapa jam selama beberapa minggu, lalu bandingkan. Lihat jam masuk, durasi tonton, dan jumlah checkout.

Untuk konteks Indonesia, jam malam sering ramai. Namun tiap kategori bisa berbeda. Jadi yang paling aman tetap mengandalkan data dari live sendiri.

Mitos 5: “TikTok itu gratis, tinggal posting”

Kenapa jualan di TikTok dianggap sudah mahal

Biaya bukan cuma iklan. Ada komponen lain yang ikut bergerak. Komisi affiliate bisa membesar. Fee platform ada. Operasional juga ada. Jika semua dihitung, “gratis” jadi tidak tepat.

Yang penting bukan menolak biaya, tetapi menyiapkan struktur biaya yang sehat.

Komponen biaya yang sering lupa dihitung: ads, komisi affiliate, fee platform

Penjual pemula sering menghitung COGS dan ongkir saja. Lalu lupa menghitung biaya untuk mendorong traffic dan konversi. Padahal tiga biaya ini sering menjadi yang paling terasa saat sudah scale.

Jika Anda ingin sederhana, mulai dari daftar cek berikut:

  • Biaya promosi: ads dan voucher.
  • Biaya penjualan: komisi affiliate dan fee platform.
  • Biaya operasional: tim, gudang, dan pengiriman.

Kenapa margin perlu disiapkan dari awal agar tidak kaget di belakang

Margin adalah ruang napas. Tanpa margin, Anda tidak punya ruang untuk eksperimen. Anda juga tidak punya ruang untuk memperbesar yang berhasil.

Jika dari awal margin sudah tipis, toko mudah panik saat biaya naik. Biasanya keputusan jadi ekstrem. Diskon makin dalam atau iklan dimatikan total. Keduanya sering tidak menyelesaikan masalah.

Versi yang lebih akurat: apa yang benar-benar dibutuhkan

Produk yang punya peluang jadi Hero SKU

Hero SKU adalah produk yang paling mudah menjadi penggerak penjualan. Ini bisa produk yang paling dicari, paling sering ditanyakan, atau paling sering dibeli. Dengan hero SKU, konten dan live jadi lebih fokus.

Anda tidak harus langsung punya banyak produk pemenang. Cukup satu dulu yang stabil. Lalu bangun dari situ.

Konten yang relate, bukan sekadar lucu

Konten lucu bisa membantu stop scroll. Namun relate membantu orang paham. Jika konten tidak nyambung ke kebutuhan pembeli, penjualan sulit naik.

Relate bisa dibuat dengan cara sederhana. Misalnya menunjukkan masalah yang sering terjadi, lalu menunjukkan solusi yang masuk akal.

Sistem 360: organik, live, affiliate, ads jalan bareng sesuai tahap

Sistem 360 berarti beberapa sumber penjualan berjalan bersama. Bukan berdiri sendiri. Organik membangun awareness. Live menjawab keraguan. Affiliate memperluas pembuktian. Ads memperbesar yang sudah terbukti.

Di tengah perjalanan, banyak brand yang kami dampingi melihat pola yang sama. Saat permintaan mulai naik dari konten dan live, beban operasional ikut naik. Di Rbiz, kami terbiasa menjalankan end-to-end B2C digital commerce solutions, termasuk online marketplace, updated inventory management system, warehouse and logistics, serta customer service yang terintegrasi. Kami juga mengelola distribution network management untuk offline channel, sehingga prosesnya tidak berhenti di checkout saja. Ini relevan untuk TikTok Shop, karena sistem akan bekerja lebih baik saat stok aman, pemenuhan pesanan rapi, dan layanan pelanggan cepat.

Untuk memperdalam istilah ads dan struktur kampanye, panduan resmi yang sering dipakai praktisi ada di TikTok Business Blog.

Kesimpulannya, TikTok Shop tidak mensyaratkan Anda harus murah atau harus viral. Yang lebih penting adalah sistem. Pilih hero SKU yang masuk akal, rapikan konten yang relate, bangun live yang konsisten, lalu pakai affiliate dan ads sesuai tahap.

Di akhir, satu hal yang sering kami tekankan adalah kesiapan skala. Banyak penjual fokus mengejar lonjakan, tetapi lupa menyiapkan alur setelahnya. Rbiz menyediakan layanan enabler seperti e-commerce platform official store, live streaming management service, customer service, serta supply chain management service termasuk warehouse fulfillment service dan last mile delivery service. Dalam konteks TikTok Shop, ini membantu brand menjaga pengalaman belanja tetap stabil saat traffic naik, misalnya saat campaign, live, atau saat affiliate sedang aktif. Dengan fondasi yang rapi, pertumbuhan terasa lebih aman dan tidak mengorbankan reputasi toko.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *