RBiz Insight

Social Commerce: Bagaimana TikTok Mengubah Cara Kita Berbelanja?

Pernah membuka TikTok hanya untuk menonton video hiburan, tetapi akhirnya tertarik membeli barang yang muncul di FYP? Mulai dari skincare, pakaian, perlengkapan rumah, sampai aksesori yang sebelumnya tidak terpikirkan untuk dibeli, semuanya bisa ditemukan dalam beberapa kali scroll. Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial tidak lagi sekadar menjadi tempat mencari hiburan. Bagi banyak konsumen, platform [...]

Pernah membuka TikTok hanya untuk menonton video hiburan, tetapi akhirnya tertarik membeli barang yang muncul di FYP? Mulai dari skincare, pakaian, perlengkapan rumah, sampai aksesori yang sebelumnya tidak terpikirkan untuk dibeli, semuanya bisa ditemukan dalam beberapa kali scroll.

Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial tidak lagi sekadar menjadi tempat mencari hiburan. Bagi banyak konsumen, platform digital juga menjadi ruang untuk menemukan produk, mencari inspirasi, membaca rekomendasi, hingga melakukan transaksi.

Perubahan tersebut berkaitan dengan perkembangan social commerce, yaitu aktivitas perdagangan yang memanfaatkan media sosial untuk menghubungkan penemuan produk, interaksi dengan calon pembeli, dan proses pembelian.

Di Indonesia, perkembangan ini semakin relevan. Laporan Digital 2026 dari DataReportal mencatat terdapat sekitar 180 juta identitas pengguna media sosial di Indonesia pada Oktober 2025, setara dengan 62,9% populasi. Angka tersebut menggambarkan besarnya jangkauan media sosial dalam kehidupan masyarakat Indonesia, meskipun identitas pengguna tidak selalu sama dengan jumlah individu unik.

Lalu, bagaimana tren social commerce mengubah kebiasaan belanja, mengapa video pendek dan live shopping menarik perhatian konsumen, dan apa peluangnya bagi bisnis online?

Trend Social Commerce dan Ecommerce di Indonesia: Belanja, Sharing, Komunitas

Apa Itu Social Commerce?

Social commerce adalah pendekatan perdagangan yang mengintegrasikan media sosial dengan aktivitas belanja. Melalui pendekatan ini, konsumen dapat menemukan produk dari konten, berinteraksi dengan kreator atau penjual, melihat demonstrasi penggunaan, dan melanjutkan ke proses pembelian melalui fitur yang tersedia.

Konsep ini berbeda dari pengalaman belanja online yang sepenuhnya dimulai melalui pencarian di marketplace atau website. Dalam social commerce, konsumen bisa menemukan produk secara tidak sengaja ketika sedang menikmati konten.

Sebagai contoh, seseorang yang sedang menonton video tentang menata kamar dapat menemukan rak penyimpanan yang menarik. Setelah melihat produk tersebut digunakan dalam video, ia mungkin mencari ulasan tambahan, membandingkan harga, lalu mempertimbangkan untuk membelinya.

Proses tersebut memperlihatkan bagaimana konten dapat menjadi pintu masuk menuju transaksi.

TikTok menjadi salah satu platform yang menonjol dalam perkembangan ini melalui video pendek, siaran langsung, kreator konten, dan fitur belanja. Namun, social commerce tidak terbatas pada satu platform karena aktivitas serupa juga dapat ditemukan melalui berbagai kanal media sosial.

Mengapa Orang Bisa Tertarik Belanja dari FYP?

Ada beberapa alasan mengapa konten media sosial dapat memengaruhi cara konsumen menemukan dan mempertimbangkan produk.

1. Produk Ditemukan Saat Konsumen Tidak Sedang Mencari

Dalam pola belanja konvensional, seseorang biasanya memiliki kebutuhan tertentu sebelum mencari produk. Misalnya, ketika membutuhkan sepatu baru, ia membuka marketplace dan mengetik kata kunci yang sesuai.

Melalui social commerce, perjalanan tersebut bisa berlangsung sebaliknya. Konsumen melihat produk terlebih dahulu, tertarik dengan manfaat atau tampilannya, lalu mulai mempertimbangkan apakah barang tersebut dibutuhkan.

Video tentang perlengkapan dapur, misalnya, dapat memperkenalkan alat yang sebelumnya tidak diketahui penonton. Jika demonstrasinya menarik dan manfaatnya terasa relevan, produk tersebut berpotensi masuk ke daftar pertimbangan pembelian.

Bagi brand, kondisi ini membuka peluang untuk menjangkau calon pelanggan yang belum secara aktif mencari produk mereka.

2. Video Pendek Membuat Fungsi Produk Lebih Mudah Dipahami

Foto produk dapat menunjukkan tampilan barang, tetapi video memungkinkan calon konsumen melihat bagaimana produk digunakan dalam situasi nyata.

Sebuah tas dapat diperlihatkan melalui kapasitas penyimpanannya. Peralatan rumah tangga dapat didemonstrasikan ketika digunakan. Produk kecantikan dapat dijelaskan melalui cara pemakaian dan teksturnya.

Format video juga memungkinkan informasi disampaikan melalui visual, suara, teks, dan narasi dalam waktu relatif singkat.

Meski begitu, konten yang menarik belum tentu langsung menghasilkan penjualan. Konsumen tetap dapat mencari informasi tambahan mengenai kualitas, harga, keamanan, dan kesesuaian produk sebelum membeli.

Karena itu, video sebaiknya tidak hanya dibuat agar terlihat menarik, tetapi juga membantu audiens memahami manfaat produk secara jelas.

3. Rekomendasi Kreator Terasa Lebih Dekat dengan Keseharian

Kreator konten sering memperkenalkan produk melalui pengalaman, demonstrasi, atau cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Pendekatan tersebut dapat membuat produk lebih mudah dipahami dibandingkan promosi yang hanya berisi daftar spesifikasi. Penonton bisa melihat bagaimana barang digunakan dan mempertimbangkan apakah manfaatnya sesuai dengan kebutuhan mereka.

Namun, rekomendasi kreator tidak seharusnya diterima begitu saja. Konsumen tetap perlu memeriksa informasi produk dan membedakan pengalaman pribadi dengan klaim yang dapat dibuktikan.

Bagi brand, memilih kreator sebaiknya tidak hanya didasarkan pada jumlah pengikut. Kesesuaian audiens, kredibilitas, kualitas konten, dan relevansi produk juga perlu diperhatikan.

Live Shopping: Dari Menonton hingga Berinteraksi dengan Penjual

Selain video pendek, live shopping menjadi bagian penting dari perkembangan social commerce. Format ini memungkinkan penjual atau kreator memperkenalkan produk secara langsung, menjawab pertanyaan penonton, dan menunjukkan cara penggunaan barang selama siaran berlangsung.

Data yang dipublikasikan IDN Research Institute pada 19 Agustus 2026, mengutip survei Jakpat terhadap 818 responden, menunjukkan bahwa 71% responden tertarik pada live shopping karena diskon. Sementara itu, 65% mencari interaksi langsung dengan penjual dan informasi mengenai kondisi produk sebelum membeli.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa daya tarik live shopping tidak hanya berkaitan dengan harga, tetapi juga kesempatan memperoleh informasi secara langsung.

Ada beberapa hal yang membuat format ini menarik bagi konsumen.

  • Demonstrasi produk secara langsung. Penonton dapat melihat barang digunakan, bukan hanya melihat foto atau video yang sudah diedit.
  • Tanya jawab secara real-time. Konsumen bisa mengajukan pertanyaan mengenai ukuran, bahan, fungsi, atau cara penggunaan produk.
  • Penawaran selama siaran. Voucher atau promo tertentu dapat mendorong penonton mempertimbangkan pembelian, meskipun keputusan tetap bergantung pada kebutuhan dan anggaran masing-masing.
  • Suasana yang interaktif. Komentar penonton dan respons host membuat pengalaman berbelanja terasa lebih dinamis.

Bagi konsumen, live shopping dapat membantu mengurangi ketidakpastian sebelum membeli. Sementara itu, bagi brand, format ini memberikan kesempatan untuk menjelaskan keunggulan produk dan berinteraksi langsung dengan calon pelanggan.

Affiliate Marketing Ikut Mengubah Cara Produk Ditemukan

Perkembangan social commerce juga berkaitan dengan affiliate marketing. Melalui model ini, kreator atau mitra afiliasi mempromosikan produk dan berpotensi memperoleh komisi ketika transaksi memenuhi ketentuan program.

Dalam praktiknya, produk dapat diperkenalkan melalui ulasan, tutorial, video rekomendasi, perbandingan, atau demonstrasi penggunaan.

Misalnya, kreator yang membuat konten tentang perlengkapan kerja dapat merekomendasikan keyboard, lampu meja, atau tas laptop yang relevan dengan audiensnya. Penonton yang tertarik kemudian dapat mengunjungi tautan produk untuk mencari informasi lebih lanjut atau melakukan pembelian.

Bagi brand, affiliate marketing membuka peluang memperluas distribusi konten melalui jaringan kreator. Produk tidak hanya diperkenalkan melalui akun resmi perusahaan, tetapi juga melalui beragam sudut pandang yang sesuai dengan karakter audiens.

Namun, jumlah kreator yang mempromosikan produk bukan satu-satunya penentu keberhasilan. Brand tetap perlu memperhatikan kualitas konten, relevansi audiens, transparansi promosi, dan hasil transaksi yang dihasilkan.

Program afiliasi yang dikelola dengan baik juga perlu didukung ketersediaan stok, informasi produk yang konsisten, serta mekanisme pemenuhan pesanan yang memadai.

Apakah Semua Produk Cocok Dijual Melalui Social Commerce?

Tidak selalu. Potensi social commerce dipengaruhi oleh karakteristik produk, kebutuhan konsumen, cara produk digunakan, dan kebiasaan audiens dalam mencari informasi.

Produk yang mudah diperlihatkan melalui video atau memiliki manfaat yang dapat didemonstrasikan mungkin lebih mudah diperkenalkan melalui konten visual. Misalnya, aksesori, perlengkapan rumah, pakaian, dan sejumlah produk kecantikan.

Sementara itu, produk yang membutuhkan pertimbangan lebih mendalam mungkin memerlukan informasi tambahan, seperti spesifikasi lengkap, panduan penggunaan, ulasan terperinci, atau konsultasi sebelum pembelian.

Karena itu, brand sebaiknya tidak hanya mengikuti platform yang sedang populer. Pemilihan kanal perlu mempertimbangkan tempat audiens menghabiskan waktu, jenis informasi yang mereka butuhkan, dan cara mereka mengambil keputusan.

Social commerce dapat menjadi bagian dari strategi pemasaran, tetapi tidak selalu harus menggantikan marketplace, website resmi, atau kanal penjualan lainnya.

Bagaimana Brand Bisa Memanfaatkan Tren Social Commerce?

Bagi bisnis yang ingin mengembangkan penjualan online, social commerce menawarkan peluang untuk menghubungkan konten, interaksi, dan transaksi. Namun, hasilnya akan lebih optimal jika strategi dijalankan secara terencana.

1. Buat Konten yang Menjawab Kebutuhan Audiens

Alih-alih hanya menampilkan produk dan harga, brand dapat membuat konten yang menjawab masalah sehari-hari, menjelaskan fungsi produk, atau memberikan inspirasi penggunaan.

Konten seperti ini membantu audiens memahami relevansi produk dengan kehidupan mereka.

2. Pilih Kreator Berdasarkan Kesesuaian Audiens

Kreator dengan jumlah pengikut besar belum tentu menjadi pilihan paling efektif untuk setiap produk. Brand perlu mempertimbangkan karakter audiens, relevansi topik, kualitas interaksi, dan kesesuaian gaya komunikasi.

Tujuannya bukan sekadar memperoleh banyak penayangan, tetapi menjangkau calon pelanggan yang berpotensi tertarik pada produk.

3. Gunakan Live Shopping untuk Menjawab Pertanyaan

Siaran langsung dapat dimanfaatkan untuk menunjukkan detail produk, memberikan demonstrasi, dan menjawab pertanyaan yang sering muncul.

Persiapan host, alur siaran, stok, dan informasi promosi perlu diperhatikan agar pengalaman belanja tetap nyaman bagi penonton.

4. Evaluasi Hasil Berdasarkan Data

Performa social commerce tidak cukup diukur dari jumlah tayangan atau komentar. Brand juga perlu mengevaluasi klik produk, konversi, biaya promosi, nilai transaksi, dan keuntungan.

Dengan begitu, bisnis dapat mengetahui jenis konten dan pendekatan pemasaran yang paling sesuai dengan tujuan penjualan.

5. Pastikan Operasional Siap Mendukung Permintaan

Konten viral dapat meningkatkan perhatian terhadap suatu produk dalam waktu singkat. Namun, peningkatan permintaan perlu diimbangi kesiapan stok, pemrosesan pesanan, pengiriman, dan layanan pelanggan.

Jika konten berhasil menarik pembeli tetapi stok tidak tersedia atau pesanan terlambat diproses, pengalaman pelanggan dapat terganggu.

Karena itu, strategi konten dan pemasaran sebaiknya terhubung dengan pengelolaan operasional e-commerce.

Social Commerce Bukan Hanya Soal Viral, tetapi Juga Pengalaman Pelanggan

Mendapatkan perhatian di media sosial memang dapat membantu produk dikenal lebih luas. Namun, viralitas bukan jaminan penjualan yang berkelanjutan.

Konsumen bisa tertarik karena sebuah video, tetapi pengalaman setelah pembelian tetap memengaruhi kepercayaan terhadap brand. Produk yang sesuai deskripsi, proses transaksi yang jelas, pengiriman yang baik, dan layanan pelanggan yang responsif dapat membantu membangun hubungan jangka panjang.

Bagi brand yang menjual melalui beberapa kanal, tantangannya semakin kompleks. Informasi produk perlu konsisten, stok harus dikelola dengan baik, dan aktivitas penjualan perlu dipantau secara menyeluruh.

Di sinilah pengelolaan e-commerce yang terstruktur menjadi relevan. Sebagai e-commerce enabler, Rbiz mendukung brand dalam pengelolaan kanal penjualan online dan kebutuhan operasional e-commerce. Dukungan yang sesuai dapat membantu bisnis menghubungkan strategi pemasaran dengan kesiapan operasional, sehingga pertumbuhan tidak hanya berfokus pada peningkatan transaksi sesaat.

Kesimpulan

Social commerce mengubah cara konsumen menemukan dan mempertimbangkan produk. Jika sebelumnya proses belanja sering dimulai dari pencarian kebutuhan, kini produk juga dapat ditemukan melalui video pendek, rekomendasi kreator, dan live shopping.

Perubahan ini memberikan peluang bagi brand untuk menjangkau audiens melalui konten yang relevan dan interaksi yang lebih dekat. Namun, keberhasilan social commerce tidak hanya bergantung pada viralitas atau besarnya diskon.

Konten yang informatif, rekomendasi yang relevan, pengalaman pelanggan yang baik, serta operasional yang siap menjadi bagian penting dari strategi jangka panjang.

Pada akhirnya, perjalanan dari FYP ke keranjang belanja bukan hanya tentang bagaimana produk menarik perhatian, tetapi juga bagaimana brand membangun kepercayaan hingga konsumen merasa yakin untuk membeli.

Contact Us

Start your business journey with RBiz.

Talk to RBiz about official store operations, fulfillment, distribution, or a dedicated supply chain management path for your brand.