RBiz Insight

Doom Spending: Kenapa Scroll Media Sosial Bisa Bikin Kita Belanja Tanpa Sadar?

Pernah berniat membuka media sosial hanya untuk mengisi waktu luang, tetapi berakhir dengan beberapa barang baru di keranjang belanja? Awalnya hanya melihat video rekomendasi produk, kemudian menemukan promo menarik, membaca ulasan kreator, hingga akhirnya melakukan checkout untuk barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Kebiasaan seperti ini semakin relevan untuk dibicarakan di tengah mudahnya akses belanja [...]

Pernah berniat membuka media sosial hanya untuk mengisi waktu luang, tetapi berakhir dengan beberapa barang baru di keranjang belanja? Awalnya hanya melihat video rekomendasi produk, kemudian menemukan promo menarik, membaca ulasan kreator, hingga akhirnya melakukan checkout untuk barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.

Kebiasaan seperti ini semakin relevan untuk dibicarakan di tengah mudahnya akses belanja online. Salah satu istilah yang muncul dalam pembahasan perilaku konsumen adalah doom spending, yaitu kecenderungan mengeluarkan uang sebagai respons terhadap stres, kecemasan, atau perasaan tidak pasti mengenai kondisi kehidupan dan masa depan.

Fenomena ini menjadi perhatian, khususnya ketika kebiasaan belanja bertemu dengan media sosial, tren viral, dan kemudahan transaksi digital. Dalam laporan yang membahas Gen Z Indonesia pada Juni 2026, IDN Research Institute mengangkat hubungan antara tekanan ekonomi, FOMO, dan kebiasaan belanja sebagai bagian dari fenomena doom spending.

Lantas, apa sebenarnya doom spending, mengapa kebiasaan ini bisa terjadi, dan bagaimana pengaruhnya terhadap cara konsumen berbelanja di era digital?

Apa Itu Doom Spending?

Doom spending adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perilaku membelanjakan uang sebagai cara menghadapi perasaan negatif, seperti stres, kecemasan, atau ketidakpastian mengenai masa depan.

Berbeda dengan pembelian yang dilakukan karena kebutuhan yang jelas, doom spending dapat terjadi ketika seseorang mencari perasaan lega atau senang melalui aktivitas belanja. Barang yang dibeli tidak selalu menjadi prioritas, tetapi proses memilih produk dan melakukan transaksi memberikan kepuasan sesaat.

Misalnya, seseorang sedang merasa tertekan karena pekerjaan atau kondisi keuangan. Untuk mengalihkan pikiran, ia membuka marketplace dan mulai mencari barang yang menarik. Ketika menemukan produk dengan harga terjangkau atau diskon terbatas, muncul dorongan untuk segera membelinya.

Setelah transaksi selesai, perasaan senang mungkin muncul. Namun, ketika melihat saldo rekening atau tagihan di kemudian hari, orang tersebut justru bisa merasa menyesal

Meski demikian, tidak semua pembelian spontan dapat disebut doom spending. Seseorang bisa saja membeli barang secara impulsif karena tertarik pada produk tertentu, tanpa menjadikan belanja sebagai cara menghadapi tekanan emosional. Istilah doom spending lebih tepat digunakan ketika terdapat kaitan antara kondisi emosional dan kebiasaan mengeluarkan uang.

Mengapa Doom Spending Bisa Terjadi?

Ada beberapa faktor yang dapat mendorong seseorang berbelanja tanpa perencanaan, terutama ketika aktivitas tersebut mudah dilakukan melalui smartphone.

1. Belanja Menjadi Pelarian dari Stres

Aktivitas belanja dapat memberikan hiburan sementara ketika seseorang sedang merasa bosan, lelah, atau tertekan. Melihat produk menarik dan membayangkan pengalaman menggunakannya bisa memberikan perasaan menyenangkan.

Masalahnya, kepuasan tersebut belum tentu bertahan lama. Jika belanja terus digunakan sebagai respons terhadap setiap perasaan negatif, pengeluaran yang tidak direncanakan bisa semakin sering terjadi.

Karena itu, penting untuk mengenali alasan di balik keinginan membeli barang. Apakah produk tersebut memang dibutuhkan, atau pembelian hanya dilakukan untuk memperbaiki suasana hati?

2. FOMO Membuat Kita Takut Ketinggalan Tren

FOMO atau fear of missing out adalah perasaan takut tertinggal dari pengalaman, tren, atau aktivitas yang sedang diikuti orang lain.

Di media sosial, FOMO dapat muncul ketika seseorang terus melihat teman, kreator, atau figur publik menggunakan produk yang sedang populer. Produk tersebut kemudian terasa semakin menarik karena banyak orang membicarakannya.

Situasi ini dapat mendorong seseorang membeli barang bukan karena kebutuhan, melainkan karena ingin mengikuti tren atau merasa menjadi bagian dari kelompok tertentu.

Padahal, sesuatu yang viral belum tentu sesuai dengan kebutuhan, preferensi, maupun kemampuan finansial setiap orang.

3. Konten Media Sosial Mempermudah Penemuan Produk

Media sosial kini tidak hanya menjadi tempat mencari hiburan dan berkomunikasi. Platform digital juga menjadi ruang untuk menemukan produk, membaca rekomendasi, menonton demonstrasi penggunaan, hingga melakukan pembelian.

Ketika seseorang sering berinteraksi dengan konten tertentu, rekomendasi produk serupa dapat terus muncul di beranda. Akibatnya, paparan terhadap barang yang menarik bisa berlangsung berulang kali.

Misalnya, seseorang yang menonton video tentang perlengkapan kerja dapat menemukan rekomendasi tas, tumbler, keyboard, hingga aksesori meja. Meskipun awalnya hanya tertarik pada satu produk, banyaknya rekomendasi dapat memunculkan keinginan membeli barang lain.

Kondisi ini menunjukkan bahwa keputusan belanja tidak hanya dipengaruhi oleh kebutuhan, tetapi juga oleh apa yang dilihat konsumen selama menggunakan platform digital.

4. Promo dan Urgensi Pembelian Mempercepat Keputusan

Diskon terbatas, voucher, gratis ongkir, dan hitung mundur promo dapat membuat konsumen merasa perlu mengambil keputusan dengan cepat.

Ketika muncul pesan seperti “stok hampir habis” atau “promo berakhir sebentar lagi”, sebagian orang mungkin lebih fokus pada kesempatan mendapatkan harga murah daripada mempertimbangkan apakah barang tersebut benar-benar diperlukan.

Padahal, harga yang lebih rendah tidak selalu berarti penghematan. Jika suatu barang tidak dibutuhkan, uang yang dikeluarkan tetap menjadi pengeluaran tambahan.

5. Transaksi Digital Terasa Semakin Praktis

Belanja online memungkinkan konsumen mencari produk dan menyelesaikan transaksi dalam beberapa langkah. Kemudahan ini tentu bermanfaat, terutama bagi orang yang memiliki waktu terbatas.

Namun, proses yang praktis juga dapat mengurangi waktu untuk mempertimbangkan keputusan. Ketika metode pembayaran sudah tersimpan dan checkout dapat dilakukan dengan cepat, jarak antara keinginan membeli dan transaksi menjadi semakin pendek.

Itulah sebabnya, memberi jeda sebelum melakukan pembayaran dapat membantu seseorang mengevaluasi kembali keputusannya.

Apa Hubungan Doom Spending dengan Gen Z?

Gen Z tumbuh dalam lingkungan digital yang membuat media sosial, kreator konten, dan belanja online menjadi bagian dari keseharian. Produk baru dapat ditemukan melalui video pendek, rekomendasi teman, tren viral, maupun siaran langsung penjualan.

Di sisi lain, anak muda juga menghadapi berbagai pertimbangan dalam mengelola uang, mulai dari kebutuhan sehari-hari hingga keinginan menikmati pengalaman dan mengikuti perkembangan tren.

Dalam kajiannya pada Juni 2026, IDN Research Institute membahas doom spending dalam konteks Gen Z Indonesia dan menyoroti hubungan antara kecemasan ekonomi, FOMO, serta dorongan belanja di ekosistem digital.

Meski begitu, fenomena ini tidak berarti semua anggota Gen Z memiliki kebiasaan belanja yang sama. Perilaku konsumen dipengaruhi banyak faktor, termasuk pendapatan, lingkungan, prioritas, dan kebiasaan mengelola keuangan.

Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana paparan tren dan kemudahan transaksi dapat memengaruhi keputusan pembelian, khususnya ketika konsumen sedang berada dalam kondisi emosional tertentu.

Bagaimana Cara Menghindari Doom Spending?

Menghindari doom spending bukan berarti harus berhenti berbelanja atau menjauhi seluruh aktivitas belanja online. Hal yang lebih penting adalah membangun kebiasaan mengambil keputusan secara sadar.

Berikut beberapa langkah sederhana yang bisa diterapkan.

1. Beri Jeda Sebelum Checkout

Ketika menemukan produk menarik, masukkan terlebih dahulu ke keranjang belanja tanpa langsung membayar. Beri waktu untuk mempertimbangkan apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan.

Jeda ini membantu mengurangi keputusan yang dibuat secara terburu-buru, terutama saat melihat promo atau tren yang sedang ramai.

2. Bedakan Kebutuhan dan Keinginan

Sebelum membeli, tanyakan pada diri sendiri apakah produk tersebut akan digunakan dalam waktu dekat dan apakah sudah memiliki barang serupa.

Jika barang hanya menarik karena sedang viral, tidak ada salahnya menunda pembelian sampai keinginan tersebut terasa lebih rasional.

3. Tentukan Anggaran Belanja

Sisihkan dana belanja sesuai kemampuan setelah memperhitungkan kebutuhan utama dan kewajiban finansial. Anggaran ini dapat membantu membatasi pengeluaran spontan tanpa harus menghilangkan kesenangan berbelanja.

Mencatat transaksi juga dapat membantu mengenali pola pengeluaran yang sebelumnya tidak disadari.

4. Kurangi Paparan yang Memicu Belanja

Jika rekomendasi produk terus memunculkan keinginan membeli, coba atur waktu penggunaan media sosial, berhenti mengikuti akun yang terlalu sering memicu pembelian spontan, atau matikan notifikasi promosi yang tidak diperlukan.

Langkah tersebut bukan berarti seluruh konten promosi harus dihindari. Tujuannya adalah memberi ruang agar keputusan belanja tidak selalu dipengaruhi rangsangan yang muncul sepanjang hari.

5. Cari Cara Lain untuk Mengelola Stres

Ketika muncul keinginan berbelanja saat sedang tertekan, cobalah melakukan aktivitas lain, seperti berjalan kaki, beristirahat, berbicara dengan orang terdekat, atau menjalankan hobi yang tidak memerlukan banyak pengeluaran.

Jika kebiasaan belanja mulai mengganggu kondisi keuangan dan sulit dikendalikan, mencari bantuan profesional juga dapat menjadi pilihan.

Apa Artinya Tren Ini bagi Brand dan Bisnis E-commerce?

Doom spending tidak hanya relevan bagi konsumen. Fenomena ini juga memberikan gambaran tentang hubungan antara emosi, konten digital, dan keputusan pembelian.

Bagi brand, memahami perilaku konsumen menjadi penting karena keputusan belanja tidak selalu dimulai dari pencarian produk secara langsung. Konsumen dapat menemukan produk ketika menonton video, mengikuti kreator, membaca ulasan, atau sekadar menjelajahi media sosial.

Hal ini membuka peluang bagi bisnis untuk membangun strategi pemasaran yang lebih relevan dengan kebiasaan audiens.

Konten yang Relevan Dapat Membantu Produk Ditemukan

Konten yang menjawab kebutuhan sehari-hari, memberikan inspirasi, atau menunjukkan cara menggunakan produk dapat membantu konsumen memahami manfaat suatu barang.

Namun, relevansi tidak cukup hanya dengan mengikuti tren. Brand juga perlu memastikan bahwa pesan yang disampaikan sesuai dengan karakter audiens dan manfaat produk yang sebenarnya.

Kepercayaan Menjadi Bagian Penting dalam Keputusan Pembelian

Konsumen dapat tertarik pada produk karena konten viral, tetapi mereka tetap membutuhkan alasan untuk percaya sebelum membeli.

Informasi produk yang jelas, ulasan yang dapat dipertanggungjawabkan, layanan pelanggan yang responsif, dan pengalaman transaksi yang baik dapat membantu membangun kepercayaan dalam jangka panjang.

Strategi Penjualan Perlu Didukung Operasional yang Baik

Ketika sebuah produk mendapatkan perhatian besar di media sosial, bisnis perlu memastikan bahwa ketersediaan stok, pemrosesan pesanan, pengiriman, dan layanan pelanggan mampu mengikuti permintaan.

Karena itu, keberhasilan pemasaran digital tidak cukup diukur dari jumlah penayangan atau transaksi dalam waktu singkat. Brand juga perlu memperhatikan kepuasan pelanggan dan keberlanjutan bisnis

Sebagai e-commerce enabler, Rbiz mendukung brand dalam mengelola berbagai kebutuhan bisnis online, mulai dari pengelolaan kanal penjualan hingga operasional e-commerce. Pendekatan yang terintegrasi dapat membantu brand menjalankan strategi pertumbuhan dengan lebih terstruktur, tanpa mengabaikan pengalaman konsumen.

Kesimpulan

Doom spending menggambarkan bagaimana kondisi emosional, tren media sosial, FOMO, dan kemudahan transaksi dapat memengaruhi kebiasaan belanja seseorang.

Di tengah perkembangan e-commerce, konsumen perlu semakin sadar dalam membedakan kebutuhan dan keinginan. Memberi jeda sebelum checkout, menetapkan anggaran, serta mengevaluasi alasan di balik pembelian dapat membantu membangun kebiasaan belanja yang lebih sehat.

Bagi brand, fenomena ini juga menjadi pengingat bahwa strategi pemasaran yang efektif bukan sekadar mendorong konsumen untuk membeli secepat mungkin. Memahami kebutuhan audiens, membangun kepercayaan, dan memberikan pengalaman belanja yang baik merupakan bagian penting dalam menciptakan hubungan jangka panjang dengan pelanggan.

Contact Us

Start your business journey with RBiz.

Talk to RBiz about official store operations, fulfillment, distribution, or a dedicated supply chain management path for your brand.