RBiz Insight
AI untuk Belanja Online Makin Mudah, Apakah Kita Berhenti Mencari Produk di Marketplace?
Pernah merasa lelah karena harus membuka banyak toko online hanya untuk menemukan satu produk yang sesuai kebutuhan? Kamu mungkin perlu membandingkan harga, membaca ulasan pembeli, mengecek spesifikasi, hingga memastikan apakah produk tersebut benar-benar layak dibeli. Namun, bagaimana jika semua proses itu bisa dimulai hanya dengan mengajukan satu pertanyaan kepada AI? Perkembangan AI untuk belanja online [...]
Pernah merasa lelah karena harus membuka banyak toko online hanya untuk menemukan satu produk yang sesuai kebutuhan? Kamu mungkin perlu membandingkan harga, membaca ulasan pembeli, mengecek spesifikasi, hingga memastikan apakah produk tersebut benar-benar layak dibeli. Namun, bagaimana jika semua proses itu bisa dimulai hanya dengan mengajukan satu pertanyaan kepada AI?
Perkembangan AI untuk belanja online mulai mengubah cara konsumen menemukan dan mempertimbangkan produk. Jika sebelumnya orang terbiasa mengetik kata kunci di mesin pencari atau menggunakan fitur pencarian di marketplace, kini mereka juga bisa meminta bantuan kecerdasan buatan untuk menemukan rekomendasi, membandingkan pilihan, dan memahami kelebihan suatu produk.
Perubahan ini bukan lagi sekadar gambaran masa depan. Pada Maret 2026, Google mengumumkan pengalaman belanja berbasis AI di Indonesia melalui Gemini dan pembaruan fitur pencarian belanja. Pengguna dapat mengajukan pertanyaan dalam bahasa sehari-hari untuk menemukan produk, membandingkan harga, serta melihat informasi seperti ulasan dan ketersediaan produk.
Lantas, apakah kehadiran AI akan membuat konsumen meninggalkan marketplace? Atau justru membuka peluang baru bagi brand untuk menjangkau calon pembeli?
AI dan Masa Depan Pekerjaan: Profesi yang Bertahan dan yang Mulai Tergeser
AI untuk Belanja Online Mengubah Cara Konsumen Mencari Produk
Selama bertahun-tahun, proses belanja online umumnya dimulai dengan mengetik nama produk di mesin pencari atau marketplace. Konsumen kemudian memilah hasil pencarian, membuka halaman produk, membaca ulasan, dan membandingkan harga sebelum memutuskan untuk membeli.
Cara tersebut masih relevan. Namun, AI menawarkan pendekatan yang berbeda: konsumen dapat menjelaskan kebutuhan mereka secara lebih spesifik tanpa harus mengetahui nama atau spesifikasi produk sejak awal.
Misalnya, seseorang ingin membeli sepatu untuk berjalan kaki setiap hari dengan anggaran terbatas. Alih-alih hanya mengetik “sepatu jalan pria”, ia dapat bertanya kepada AI, “Rekomendasikan sepatu jalan yang nyaman untuk digunakan setiap hari, ringan, dan harganya di bawah Rp500 ribu.”
AI dapat membantu menyusun kriteria pencarian, menjelaskan hal-hal yang perlu diperhatikan, serta menyajikan sejumlah pilihan berdasarkan informasi yang tersedia. Pada fitur tertentu, pengguna juga bisa mendapatkan perbandingan produk dan tautan untuk melanjutkan pencarian atau pembelian.
Pengalaman seperti ini membuat pencarian produk terasa lebih personal dan praktis. Konsumen tidak harus selalu memulai dari daftar produk yang panjang. Mereka bisa memulai dari masalah yang ingin diselesaikan.
Benarkah Konsumen Indonesia Mulai Menggunakan AI Sebelum Membeli?
Perubahan perilaku tersebut juga terlihat dalam riset konsumen di Indonesia.
Riset eksploratif yang dilakukan pada Maret 2026 terhadap 1.596 responden valid menemukan bahwa 74,6% responden pernah menggunakan AI untuk mencari informasi produk sebelum membeli. Sebanyak 26,4% responden bahkan dilaporkan telah menggunakan AI secara intensif dalam proses tersebut.
Temuan ini memberikan gambaran bahwa AI mulai digunakan bukan hanya untuk pekerjaan, membuat tulisan, atau mencari penjelasan umum, tetapi juga untuk membantu konsumen mempertimbangkan keputusan pembelian.
Meski demikian, angka tersebut perlu dibaca sesuai konteksnya. Riset ini merupakan studi eksploratif berbasis survei daring, sehingga hasilnya tidak otomatis menggambarkan seluruh konsumen Indonesia.
Hal yang menarik bagi pelaku bisnis bukan sekadar jumlah pengguna AI. Perubahan yang perlu diperhatikan adalah tahap ketika konsumen mulai mengenal suatu produk.
Jika konsumen sebelumnya banyak mengandalkan pencarian marketplace, mesin pencari, iklan, atau rekomendasi media sosial, kini AI juga dapat menjadi salah satu titik awal perjalanan belanja mereka.
Artinya, brand perlu memperhatikan bagaimana informasi produknya ditemukan, dipahami, dan dipertimbangkan oleh calon pembeli di berbagai kanal digital.
Apakah AI Akan Menggantikan Marketplace?
Jawabannya, belum tentu. AI dan marketplace memiliki fungsi yang berbeda, meskipun keduanya dapat saling terhubung dalam perjalanan belanja konsumen.
AI dapat membantu konsumen memahami kebutuhan, menyaring pilihan, dan membandingkan alternatif. Sementara itu, marketplace tetap berperan sebagai tempat untuk melihat penawaran penjual, memeriksa detail transaksi, menggunakan metode pembayaran, dan menyelesaikan pembelian sesuai fitur yang tersedia.
Bayangkan seseorang ingin membeli blender untuk kebutuhan rumah tangga. Ia bisa meminta AI membandingkan jenis blender berdasarkan kapasitas, kemudahan dibersihkan, dan kisaran harga. Setelah memperoleh gambaran produk yang sesuai, ia masih mungkin membuka marketplace untuk membaca ulasan pembeli, memeriksa reputasi toko, melihat biaya pengiriman, dan mencari promo.
Dengan kata lain, AI berpotensi mengubah cara konsumen menemukan dan mengevaluasi produk, tetapi tidak otomatis menghilangkan kebutuhan terhadap marketplace.
Bagi brand , hal ini justru menunjukkan pentingnya membangun kehadiran digital yang kuat di berbagai titik perjalanan konsumen. Produk perlu memiliki informasi yang jelas saat ditemukan melalui AI, sekaligus halaman penjualan yang meyakinkan ketika konsumen melanjutkan pencarian ke marketplace.

Dampaknya bagi Brand: Produk Bagus Saja Tidak Cukup
Ketika konsumen meminta rekomendasi kepada AI, mereka biasanya menyampaikan kebutuhan atau kriteria tertentu. Mereka mungkin mencari produk dengan harga terjangkau, ukuran tertentu, fungsi spesifik, atau karakteristik yang sesuai dengan kebiasaan mereka.
Dalam situasi ini, brand tidak cukup hanya mengandalkan nama produk dan promosi. Informasi yang menjelaskan fungsi, manfaat, spesifikasi, harga, dan perbedaan produk juga menjadi penting.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan brand agar produknya lebih mudah dipahami dan dipertimbangkan oleh konsumen digital.
1. Pastikan Informasi Produk Lengkap dan Konsisten
Informasi produk yang tidak lengkap dapat menyulitkan konsumen memahami apakah produk tersebut sesuai kebutuhan mereka.
Karena itu, deskripsi produk sebaiknya menjelaskan fungsi, spesifikasi, ukuran, bahan atau komposisi jika relevan, cara penggunaan, serta informasi penting lainnya. Hindari deskripsi yang hanya berisi kalimat promosi tanpa menjelaskan apa yang sebenarnya ditawarkan.
Brand juga perlu menjaga konsistensi informasi antara website resmi, marketplace, katalog digital, dan kanal penjualan lainnya. Perbedaan nama produk, spesifikasi, atau informasi harga dapat membingungkan calon pembeli.
Informasi yang jelas membantu konsumen membuat keputusan dengan lebih baik dan memberi konteks yang lebih kuat bagi sistem digital yang mengolah informasi tersebut.
2. Buat Konten yang Menjawab Pertanyaan Konsumen
Konten brand tidak harus selalu berisi promosi atau ajakan membeli. Artikel edukasi, panduan memilih produk, perbandingan fitur, serta jawaban atas pertanyaan umum juga dapat membantu calon konsumen memahami kebutuhan mereka.
Misalnya, brand peralatan rumah tangga dapat membuat artikel tentang cara memilih air fryer berdasarkan kapasitas dan kebutuhan keluarga. Brand perawatan kulit dapat membahas hal-hal yang perlu diperhatikan saat memilih pelembap berdasarkan jenis kulit, dengan informasi yang akurat dan tidak berlebihan.
Konten semacam ini membantu brand menjawab pertanyaan yang muncul sebelum transaksi. Jika informasinya relevan, mudah dipahami, dan didukung sumber yang terpercaya, konten tersebut juga berpotensi ditemukan melalui mesin pencari maupun pengalaman pencarian berbasis AI.
3. Tetap Perhatikan SEO, Bukan Hanya Tren AI
Munculnya AI tidak berarti SEO kehilangan fungsi. Website yang terstruktur dengan baik, memiliki informasi relevan, serta memberikan pengalaman pengguna yang baik tetap penting bagi strategi digital.
Brand perlu memastikan setiap halaman memiliki judul yang jelas, heading yang teratur, deskripsi produk yang informatif, dan tautan internal yang relevan. Konten juga sebaiknya dibuat berdasarkan kebutuhan audiens, bukan sekadar mengulang kata kunci sebanyak mungkin.
Selain itu, informasi penting sebaiknya tersedia dalam bentuk teks yang mudah dipahami, bukan hanya ditampilkan dalam gambar tanpa penjelasan pendukung.
Optimasi untuk pengalaman pencarian berbasis AI sering dibahas dengan istilah Generative Engine Optimization (GEO). Pendekatan ini berfokus pada bagaimana konten dan informasi suatu brand dapat ditemukan, dipahami, dan berpeluang dirujuk oleh sistem AI.
Namun, GEO bukan jaminan bahwa produk atau website akan muncul dalam setiap rekomendasi AI. Brand tetap perlu membangun konten berkualitas, menjaga akurasi informasi, dan memantau performa digitalnya secara berkala.
4. Bangun Kepercayaan Melalui Informasi yang Bisa Diverifikasi
AI dapat membantu merangkum informasi, tetapi konsumen tetap perlu menilai apakah informasi tersebut akurat dan apakah penjualnya dapat dipercaya.
Karena itu, brand perlu memperhatikan kualitas halaman produk, kejelasan identitas penjual, kebijakan pengembalian, layanan pelanggan, dan ulasan konsumen yang autentik.
Hindari klaim manfaat yang berlebihan atau informasi yang tidak dapat dibuktikan. Selain berisiko menurunkan kepercayaan konsumen, informasi yang tidak akurat juga dapat menimbulkan ekspektasi yang keliru terhadap produk.
Pada akhirnya, teknologi dapat membantu konsumen menemukan pilihan, tetapi kepercayaan tetap berperan dalam keputusan pembelian.
Apa yang Perlu Disiapkan Bisnis agar Tidak Tertinggal?
Perubahan cara konsumen mencari produk perlu diikuti dengan evaluasi strategi digital. Bisnis tidak harus langsung mengubah seluruh operasionalnya atau mengikuti setiap tren teknologi yang muncul. Langkah awal yang lebih realistis adalah memeriksa apakah informasi dan kanal penjualannya sudah siap menghadapi konsumen yang semakin terbiasa mencari jawaban secara cepat.
Pertama, evaluasi katalog produk. Pastikan nama, kategori, foto, deskripsi, spesifikasi, dan informasi penting lainnya tersusun dengan baik. Katalog yang rapi memudahkan pengelolaan produk sekaligus membantu menjaga konsistensi informasi di berbagai kanal penjualan.
Kedua, periksa performa website dan marketplace. Cari tahu halaman mana yang paling banyak mendatangkan pengunjung, produk apa yang sering dilihat, dan pada tahap mana calon pembeli meninggalkan proses transaksi. Data ini membantu bisnis menentukan bagian yang perlu diperbaiki.
Ketiga, kembangkan konten berdasarkan pertanyaan nyata dari konsumen. Pertanyaan yang sering muncul di layanan pelanggan, ulasan marketplace, dan komentar media sosial dapat menjadi sumber ide artikel maupun materi edukasi produk.
Keempat, jangan mengabaikan kesiapan operasional. Ketika produk semakin mudah ditemukan, bisnis juga perlu memastikan stok, pemrosesan pesanan, pengiriman, dan layanan pelanggan mampu mengikuti permintaan. Peningkatan perhatian terhadap produk tidak akan memberikan hasil maksimal jika pengalaman setelah pembelian justru mengecewakan.
Bagi bisnis yang mengelola banyak produk atau berjualan melalui beberapa kanal sekaligus, konsistensi antara pemasaran, pengelolaan katalog, dan operasional menjadi semakin penting.
Masa Depan Belanja Online : Lebih Personal, tetapi Tetap Membutuhkan Brand yang Siap
AI untuk belanja online membuka cara baru bagi konsumen untuk menemukan produk dan memahami pilihan yang tersedia. Konsumen dapat memulai pencarian dengan menjelaskan kebutuhan, meminta rekomendasi, atau membandingkan beberapa alternatif tanpa harus menyaring seluruh hasil pencarian secara manual.
Meski begitu, perubahan ini tidak berarti marketplace akan langsung ditinggalkan. Konsumen masih membutuhkan informasi yang terpercaya, penawaran yang sesuai, pengalaman transaksi yang aman, dan layanan yang memuaskan.
Bagi brand , tantangannya adalah memastikan produk tidak hanya menarik ketika muncul di iklan atau media sosial, tetapi juga memiliki informasi yang jelas dan konsisten di berbagai kanal digital.
Pada akhirnya, AI dapat mengubah cara konsumen menemukan produk, tetapi kesiapan brand menentukan seberapa baik bisnis merespons perubahan tersebut. Bisnis yang mampu menggabungkan konten berkualitas, informasi produk yang akurat, strategi digital yang terukur, dan operasional yang siap akan memiliki fondasi yang lebih kuat untuk menghadapi perkembangan e-commerce.
Di tengah perubahan ini, bisnis tidak harus memilih antara SEO, marketplace, media sosial, atau AI. Justru, strategi yang menghubungkan seluruh kanal tersebut dapat membantu brand menjangkau konsumen secara lebih menyeluruh.

Start your business journey with RBiz.
Talk to RBiz about official store operations, fulfillment, distribution, or a dedicated supply chain management path for your brand.